KKN Kolaborasi 20251 Updated: 28 July 2025 Dilihat: 125 kali

Sinergi di Sudut Malam: Mahasiswa KKN STAIN Sar Kepri dan Kepala Dukuh Ngentak Berdialog Santai di Angkringan Khas Dekso

Sinergi di Sudut Malam: Mahasiswa KKN STAIN Sar Kepri dan Kepala Dukuh Ngentak Berdialog Santai di Angkringan Khas Dekso

Ngentak, 28 Juli 2025 – Suasana malam di perempatan Dekso, Dusun Ngentak, menjadi saksi bisu terjalinnya sebuah dialog informal yang hangat antara kalangan akademisi dan aparatur pemerintahan desa. Pada Senin malam (28/07/2025), Mujrin, seorang mahasiswa dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau yang tengah menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN), terlibat dalam sebuah perbincangan santai bersama Kepala Dukuh Ngentak, Bapak Arya Darussalam. Momen keakraban ini berpusat di Angkringan Pak Suyut, sebuah kedai sederhana yang menjadi titik temu warga setempat.

Kegiatan ini bukanlah sebuah pertemuan yang direncanakan secara formal. Momen ini merupakan kelanjutan dari interaksi profesional yang terjalin pada sore harinya. Mujrin dan rekannya sebelumnya telah menyelesaikan beberapa tugas administratif di kantor kelurahan atas arahan langsung dari Bapak Arya. Sebagai bentuk apresiasi dan upaya menjalin kedekatan yang lebih personal, Kepala Dukuh mengajak para mahasiswa untuk bersantai sejenak, melepaskan penat setelah bekerja. Pilihan jatuh pada Angkringan Pak Suyut, lokasi yang strategis dan familier bagi warga, yang juga berjarak tidak jauh dari posko KKN mahasiswa.

Daya tarik utama dari pertemuan santai ini, selain dari substansi diskusinya, adalah pengalaman kuliner yang unik. Mereka memesan mie rebus, sebuah menu yang tampak umum namun disajikan dengan metode yang distingtif. Pak Suyut, sang pemilik angkringan, mempertahankan proses memasak otentik menggunakan tungku arang. Proses ini secara empiris menghasilkan panas yang stabil dan merata, memberikan aroma serta cita rasa khas yang tidak dapat direplikasi oleh kompor gas modern. Ditambah dengan harga yang sangat terjangkau, pengalaman menyantap mie rebus tersebut menjadi sebuah studi kasus kecil tentang bagaimana tradisi kuliner lokal mampu bertahan dan memberikan nilai lebih bagi penikmatnya.


Di tengah kepulan uap mie rebus dan ditemani aneka gorengan sebagai hidangan pelengkap, diskusi mengalir tanpa sekat formalitas. Perbincangan menyentuh berbagai aspek, mulai dari evaluasi program kerja KKN yang telah berjalan, potensi pengembangan dusun, hingga pertukaran gagasan antara perspektif mahasiswa sebagai agen perubahan dengan kearifan lokal yang dimiliki oleh pemimpin masyarakat. Interaksi semacam ini merupakan wujud konkret dari komunikasi partisipatif, di mana ide dan masukan dapat tersampaikan secara efektif dalam lingkungan yang rileks dan setara.

Setelah perut terasa kenyang dan pikiran kembali segar, Mujrin dan Pak Arya beranjak pamit untuk kembali ke posko kediaman mereka. Perjalanan pulang yang singkat diwarnai oleh sisa-sisa percakapan hangat, meninggalkan kesan mendalam tentang pentingnya membangun relasi humanis di luar konteks kerja formal. Malam itu, mereka tidak hanya "kenyang" secara harfiah oleh sajian lezat Pak Suyut, tetapi juga "kenyang" akan wawasan dan kehangatan sosial. Peristiwa ini menjadi sebuah preseden positif, menunjukkan bahwa sinergi antara mahasiswa dan pemerintah desa dapat dibangun melalui pendekatan kultural yang sederhana namun sarat makna.

Diunggah Oleh: Muhammad Almujrin