KKN Kolaborasi 20251 Updated: 17 July 2025 Dilihat: 93 kali

Camp Education: Menanamkan Nilai Tauhid dari Kisah Nabi Ibrahim as

Semaken 1, Banjararum- Sejalan dengan tema KKN Nusantara yaitu ekoteologi maka kami menawarkan program kerja camp education. Kegiatan ini menyasar anak-anak di taman pendidikan Al-Qur’an. Kegiatan ini perdana dilaksanakan di TPQ Masjid Sunan Kalijaga Semaken 1. Mengikuti jadwal rutinan setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu maka kami memutuskan melakukan kegiatan camp education pada hari Kamis. Pemberian nama camp education ini diharapkan kegiatan ini bisa menjadi pusatnya ilmu dan pendidikan. Semua ilmu bisa dibahas di dalam majelis ini. Prosedur pelaksanaan kegiatan ini seperti mendongeng lalu diselingi dengan tepuk-tepuk sebagai ice breaking, solusi agar anak tidak jenuh.

Pertemuan pertama, Kamis 17 Juli 2025 dibuka dengan materi tauhid. Pembahasan pertama yang bisa dikatakan berat, tapi pembahasannya tentu disesuaikan dengan pendengar dalam hal ini anak sekitar usia 5 hingga 15 tahun. Pembahasan berat dibungkus dengan kisah Nabi Ibrahim as, pembawaan bahasa yang ringan dan menyenangkan. Setelah bercerita beberapa kalimat, dijeda dengan melontarkan pertanyaan atau melakukan tepuk-tepuk pemecah kejenuhan. Kami mengajak mereka untuk bisa berfikir secara logika mengapa harus Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Menarik kisah Nabi Ibrahim as yang mencari Tuhan dengan membandingkan matahari, bulan, bintang, patung dan raja yang diakui sebagai tuhan tapi mereka memiliki kekurangan. Seharusnya Tuhan tidak memiliki kekurangan sesuatu apapun dan ini bertentangan dengan tuhan yang diagungkan oleh penduduk masa Nabi Ibrahim.

Latar belakang pelaksanaan camp education ini diperuntukkan agar anak-anak mencintai Islam, tidak hanya belajar Al-Qur’an secara literal, terbatas pada permbelajaran baca dan tulis Al-Qur’an tetapi diharapkan mereka dapat faham dan menanamkan ajaran Islam di dalam hati mereka dengan suka cita. Sebab, suatu hal yang lumrah ketika menjadikan Islam sebagai simbol tanda pengenal atau ritual harian saja tanpa mengetahui makna mengapa mereka harus melaksanakan ajaran tersebut. Ketika turun di tengah masyarakat, fokus pendidikan yang kami ampu mengharuskan kami menguasai keahlian lain juga. Apalagi ketika berhadapan dengan anak-anak harus bisa menyajikan ilmu dengan bumbu yang menyenangkan.


Sambutan hangat kami dapatkan dari asatidz yang mengajar di sini. Pak Muh, selaku ustadz dan tokoh agama mengatakan kalau bisa kegiatan ini terus dilaksanakan hingga akhir masa pengabdian. Aji mumpung ada mahasiswa KKN yang bisa mengisi materi tambahan selain membaca Al-Qur’an. Beliau juga menyatakan bahwa sebelumnya TPQ hanya berpusat di Masjid Jami’ Sunan Kalijaga, tetapi sekarang kegiatan belajar mengajar Al-Qur’an terbagi di Musala Mbah Eblek dan Masjid Ash-Shobirin juga. Selain itu, beliau meminta kami untuk mengisi kajian Subuh setidaknya sepekan sekali. Suasana sejuk pada pagi Subuh terkadang melemahkan semangat untuk melangkahkan kaki ke masjid. Tapi, mengingat kembali niat kami turun di tengah masyarakat untuk mengabdi membantu masyarakat. 

Diunggah Oleh: Lulu Khairunnisa