Camp Education: Menanamkan Nilai Tauhid dari Kisah Nabi Ibrahim as
Semaken 1, Banjararum- Sejalan dengan tema KKN Nusantara yaitu ekoteologi
maka kami menawarkan program kerja camp
education. Kegiatan ini menyasar anak-anak di taman pendidikan Al-Qur’an. Kegiatan
ini perdana dilaksanakan di TPQ Masjid Sunan Kalijaga Semaken 1. Mengikuti jadwal
rutinan setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu maka kami memutuskan melakukan
kegiatan camp education pada hari
Kamis. Pemberian nama camp education ini diharapkan kegiatan
ini bisa menjadi pusatnya ilmu dan pendidikan. Semua ilmu bisa dibahas di dalam
majelis ini. Prosedur pelaksanaan kegiatan ini seperti mendongeng lalu diselingi
dengan tepuk-tepuk sebagai ice breaking, solusi
agar anak tidak jenuh.
Pertemuan
pertama, Kamis 17 Juli 2025 dibuka dengan materi tauhid. Pembahasan pertama yang bisa dikatakan
berat, tapi pembahasannya tentu disesuaikan dengan pendengar dalam hal ini anak
sekitar usia 5 hingga 15 tahun. Pembahasan berat dibungkus dengan kisah Nabi
Ibrahim as, pembawaan bahasa yang ringan dan menyenangkan. Setelah bercerita
beberapa kalimat, dijeda dengan melontarkan pertanyaan atau melakukan tepuk-tepuk
pemecah kejenuhan. Kami mengajak mereka untuk bisa berfikir secara logika
mengapa harus Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Menarik kisah Nabi Ibrahim as yang
mencari Tuhan dengan membandingkan matahari, bulan, bintang, patung dan raja yang
diakui sebagai tuhan tapi mereka memiliki kekurangan. Seharusnya Tuhan tidak
memiliki kekurangan sesuatu apapun dan ini bertentangan dengan tuhan yang
diagungkan oleh penduduk masa Nabi Ibrahim.
Latar belakang pelaksanaan camp education ini diperuntukkan agar anak-anak mencintai Islam, tidak hanya belajar Al-Qur’an secara literal, terbatas pada permbelajaran baca dan tulis Al-Qur’an tetapi diharapkan mereka dapat faham dan menanamkan ajaran Islam di dalam hati mereka dengan suka cita. Sebab, suatu hal yang lumrah ketika menjadikan Islam sebagai simbol tanda pengenal atau ritual harian saja tanpa mengetahui makna mengapa mereka harus melaksanakan ajaran tersebut. Ketika turun di tengah masyarakat, fokus pendidikan yang kami ampu mengharuskan kami menguasai keahlian lain juga. Apalagi ketika berhadapan dengan anak-anak harus bisa menyajikan ilmu dengan bumbu yang menyenangkan.
.jpeg)
Sambutan
hangat kami dapatkan dari asatidz
yang mengajar di sini. Pak Muh, selaku ustadz dan tokoh agama mengatakan kalau
bisa kegiatan ini terus dilaksanakan hingga akhir masa pengabdian. Aji mumpung ada
mahasiswa KKN yang bisa mengisi materi tambahan selain membaca Al-Qur’an. Beliau
juga menyatakan bahwa sebelumnya TPQ hanya berpusat di Masjid Jami’ Sunan
Kalijaga, tetapi sekarang kegiatan belajar mengajar Al-Qur’an terbagi di Musala
Mbah Eblek dan Masjid Ash-Shobirin juga. Selain itu, beliau meminta kami untuk
mengisi kajian Subuh setidaknya sepekan sekali. Suasana sejuk pada pagi Subuh terkadang
melemahkan semangat untuk melangkahkan kaki ke masjid. Tapi, mengingat kembali
niat kami turun di tengah masyarakat untuk mengabdi membantu masyarakat.