Hari Pertama Mengabdi yang Sudah di Nanti
Gema suara adzan Shubuh itu terdengar berbeda. Bukan seperti alarm digital yang biasa merobek mimpi di kamar kos yang sempit di himpitan rumah-rumah. Suara meliuk-meliuk, menyelinap lembut di antara celah dinding tembok dan embun pagi dinginnya suasana desa, seolah memanggil bukan hanya untuk sujud, tetapi benar-benar terjaga. Hari pertama mengabdi di desa dimulai dengan tarikan selimut yang berat dan langkah kaki yang sedikit ragu menuju Mushola kecil yang berada tak jauh dari posko. Udara terasa dingin menusuk tulang rusuk, namun kehangatan menjalari hati saat melihat shaf-shaf yang terisi oleh wajah-wajah tulus berpeci dan bersarung. Dalam khusyuknya gerakan shalat berjamaah, aku merasa bukan lagi sebagai orang asing, melainkan sebutir debu yang akhirnya menemukan tempatnya di antara hamparan sajadah kehidupan.
Selesai berzikir dan menyalami bapak-bapak yang tatapannya penuh selidik penuh tanda tanya namun ramah, aku tak langsung kembali ke pemondokan. Kaki terasa ringan, seolah ditarik oleh pesona fajar yang baru saja merekah. Aku berjalan menyusuri pematang sawah yang masih basah oleh embun. Kabut tipis menari-nari di atas pucuk padi yang hijau ranum, menciptakan selendang misterius yang perlahan disibak oleh semburat jingga di ufuk timur. Ketika bola api raksasa akhirnya mengintip di balik punggung gunung, seluruh lembah seolah disiram dengan emas cair. Padi-padi yang semula hanya siluet kini berkilauan laksana permata. Yang dulunya pernah aku jumpai di tiga tahun belakang, kini bisaku rasakan kembali. Aku berhenti sejenak, menghirup dalam-dalam udara yang paling murni, dan untuk pertama kalinya aku sadar, inilah lukisan Tuhan yang tak akan pernah bisa kutemukan dalam galeri mana pun
Diunggah Oleh: Muhammad Almujrin