Jogja Kala Itu
Yogyakarta - Ahad, 6 Juli 2025, langit gelap gulita berbalut harum suasana asing, sebelumnya belum pernah ku jejaki. Tiba di Yogyakarta pada malam hari, menyeret koper penuh pakaian. Padahal ku ‘tlah memilah barang yang ku bawa, tapi masih banyak juga pada akhirnya. Sesampainya di bandara, kami mencoba naik kereta api bandara dengan jadwal 20.55 WIB. Tak disangka ternyata kami berpapasan dengan mahasiswa KKN lainnya, diantaranya UIN Palopo, IAIN Bone. Penampilannya cukup ketara dengan menggunakan almamater kampus bertuliskan instansi asal mereka. Kami menyapa dan memperkenalkan diri.


Sesampainya di Stasiun
Tugu, ku berjanjian untuk bertemu sebentar dengan temanku. Ya, hanya ingin
sekadar menyapa sebab sepertinya kami akan sulit menemukan waktu lain yang
cocok untuk bertemu. Cukup effort
bahkan sangat ia usahakan untuk sekadar bertemu. Bersyukurnya aku mempunyai dia
sebagai teman ku. Stelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju ke University Hotel. Lokasi kami
beristirahat sejenak sebelum kami terjun ke titik lokasi yang telah ditentukan.
Hotel ini menjadi tempat pertama yang ku kunjungi. Selama perjalanan menuju
penginapan, kami melewati tempat wisata Malioboro yang ditutup untuk kendaraan
dan penuh dengan jajanan kaki lima. Kami hanya lewat, namun cukup menggambarkan
ramainya Yogyakarta kala itu. Kota ini, siang ataupun malam tidak ada bedanya,
ramai.
Istilah slow living yang diberikan kepada Kota
Tanjungpinang ternyata sebuah privillage.
Kepadatan Kota Yogyakarta terlebih pada hari libur, walaupun termasuk slow living dibandingkan Jakarta yang
menyita banyak waktu dalam perjalanan. Tapi, jalanan Yogyakarta penuh dengan
lautan kendaraan. Satu hal yang menarik perhatianku, jarang terdengar bahkan
belum ada terdengar suara klakson. Yogyakarta yang terkenal dengan tata krama
memang benar nyatanya. Bahkan, ada aturan tak tertulis di sekitar Malioboro
bahwa tidak boleh membunyikan klakson kalau ada becak atau andong. Jalanan padat namun tetap tenang.
Kunjungan selanjutnya pada
malam hari ini, tentu saja kami mencari Warmindo untuk memenuhi kebutuhan
perut. Pak Abd yang mengajak makan di Warmindo karena ingin mengulas balik
kehidupan ketika masa studi sarjana. Harga yang cukup terjangkau tentu identik
dengan khas Jogja. Walaupun sederhana, hanya mi instan sebagaimana seleranya masyarakat
Indonesia “Indomie seleraku”. Mie kuah hangat yang disajikan ala masakan
rumahan. Ada datu hal yang kurang, rasa pedas biasanya berasal dari saus atau cabai.
Tapi cukup menghangatkan jiwa raga dan mengembalikan sedikit energi untuk hari
esok yang padat.