KKN Kolaborasi 20251 Updated: 06 July 2025 Dilihat: 216 kali

Jogja Kala Itu

Yogyakarta - Ahad, 6 Juli 2025, langit gelap gulita berbalut harum suasana asing, sebelumnya belum pernah ku jejaki.  Tiba di Yogyakarta pada malam hari, menyeret koper penuh pakaian. Padahal ku ‘tlah memilah barang yang ku bawa, tapi masih banyak juga pada akhirnya. Sesampainya di bandara, kami mencoba naik kereta api bandara dengan jadwal 20.55 WIB. Tak disangka ternyata kami berpapasan dengan mahasiswa KKN lainnya, diantaranya UIN Palopo, IAIN Bone. Penampilannya cukup ketara dengan menggunakan almamater kampus bertuliskan instansi asal mereka. Kami menyapa dan memperkenalkan diri.


Sesampainya di Stasiun Tugu, ku berjanjian untuk bertemu sebentar dengan temanku. Ya, hanya ingin sekadar menyapa sebab sepertinya kami akan sulit menemukan waktu lain yang cocok untuk bertemu. Cukup effort bahkan sangat ia usahakan untuk sekadar bertemu. Bersyukurnya aku mempunyai dia sebagai teman ku. Stelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju ke University Hotel. Lokasi kami beristirahat sejenak sebelum kami terjun ke titik lokasi yang telah ditentukan. Hotel ini menjadi tempat pertama yang ku kunjungi. Selama perjalanan menuju penginapan, kami melewati tempat wisata Malioboro yang ditutup untuk kendaraan dan penuh dengan jajanan kaki lima. Kami hanya lewat, namun cukup menggambarkan ramainya Yogyakarta kala itu. Kota ini, siang ataupun malam tidak ada bedanya, ramai.

Istilah slow living yang diberikan kepada Kota Tanjungpinang ternyata sebuah privillage. Kepadatan Kota Yogyakarta terlebih pada hari libur, walaupun termasuk slow living dibandingkan Jakarta yang menyita banyak waktu dalam perjalanan. Tapi, jalanan Yogyakarta penuh dengan lautan kendaraan. Satu hal yang menarik perhatianku, jarang terdengar bahkan belum ada terdengar suara klakson. Yogyakarta yang terkenal dengan tata krama memang benar nyatanya. Bahkan, ada aturan tak tertulis di sekitar Malioboro bahwa tidak boleh membunyikan klakson kalau ada becak atau andong. Jalanan padat namun tetap tenang.

Kunjungan selanjutnya pada malam hari ini, tentu saja kami mencari Warmindo untuk memenuhi kebutuhan perut. Pak Abd yang mengajak makan di Warmindo karena ingin mengulas balik kehidupan ketika masa studi sarjana. Harga yang cukup terjangkau tentu identik dengan khas Jogja. Walaupun sederhana, hanya mi instan sebagaimana seleranya masyarakat Indonesia “Indomie seleraku”. Mie kuah hangat yang disajikan ala masakan rumahan. Ada datu hal yang kurang, rasa pedas biasanya berasal dari saus atau cabai. Tapi cukup menghangatkan jiwa raga dan mengembalikan sedikit energi untuk hari esok yang padat.

Diunggah Oleh: Lulu Khairunnisa