KKN Kolaborasi 20251 Updated: 24 July 2025 Dilihat: 133 kali

Kisah Inspiratif Mbah Dolaiman: Saksi Bisu dan Pejuang Masjid di Dusun Ngentak

Kisah Inspiratif Mbah Dolaiman: Saksi Bisu dan Pejuang Masjid di Dusun Ngentak

Ngentak, Kamis Sore, 24 Juli 2025 – Di tengah keheningan sore yang menyelimuti Dusun Ngentak, suara lirih namun penuh semangat dari Mbah Dolaiman memecah kesunyian. Lelaki sepuh yang diperkirakan berusia 95 tahun ini adalah salah satu pionir yang pertama kali menjejakkan kaki di kawasan dusun yang kini ramai dan asri ini. Duduk di beranda rumahnya yang sederhana, menghadap langsung ke sebuah bangunan megah berwarna putih gading, Mbah Dolaiman dengan mata berbinar mengenang setiap liku perjalanan hidupnya di dusun ini. Baginya, Ngentak bukan sekadar tempat tinggal, melainkan panggung perjuangan yang kini telah membuahkan hasil manis.

"Dulu, di sini masih sepi sekali, Nak," ujar Mbah Dolaiman memulai ceritanya dengan suara serak khas usia senja. "Jalan masih tanah, rumah pun masih jarang. Tapi semangat kami untuk membangun dusun ini sangat besar." Di antara semangat kolektif itu, terselip sebuah mimpi besar yang selalu menggelayuti benak Mbah Dolaiman: memiliki sebuah masjid di tengah dusun. Impian itu bukan tanpa alasan. Sebagai seorang muslim yang taat, Mbah Dolaiman merasa kehadiran rumah ibadah akan menjadi ruh dan pusat kegiatan spiritual bagi masyarakat Ngentak yang kala itu masih sedikit.

Perjuangan mewujudkan masjid impian itu tidaklah mudah. Mbah Dolaiman bersama beberapa tokoh masyarakat lainnya bahu membahu mengumpulkan dana, tenaga, dan pikiran. "Kami mengetuk pintu setiap rumah, bergotong royong membersihkan lahan, bahkan saya sendiri tak jarang ikut mengaduk semen," kenang Mbah Dolaiman dengan nada haru. Semangat pantang menyerah dan keyakinan yang kuat akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 1989, sebuah bangunan masjid berdiri kokoh tepat di depan rumah Mbah Dolaiman, sebuah pemandangan yang selalu membuatnya merasa bangga dan terharu. Peresmian masjid itu pun menjadi momen bersejarah bagi Dusun Ngentak, dihadiri langsung oleh lurah dan kepolisian setempat.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Mbah Dolaiman menikmati masa tuanya di rumah yang sama, menyaksikan masjid yang diperjuangkannya terus hidup dan menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi generasi penerus Dusun Ngentak. Di usianya yang senja, tenaganya memang tak lagi sekuat dulu. Namun, semangat hidupnya tetap membara. Setiap pagi dan sore, Mbah Dolaiman masih setia memberikan makan kepada beberapa ekor sapi dan ayam peliharaannya yang kandangnya tak jauh dari rumah. Aktivitas sederhana inilah yang menjadi rutinitas hariannya, mengisi waktu luang sambil menikmati hasil dari kerja kerasnya di masa muda.

Sore itu, di beranda rumahnya, Mbah Dolaiman memancarkan aura kebahagiaan dan ketenangan. Kisah hidupnya di Dusun Ngentak, terutama perjuangan mendirikan masjid, menjadi inspirasi bagi siapa saja yang mendengarnya. Mbah Dolaiman adalah potret seorang pejuang yang tak hanya membangun tempat tinggal, tetapi juga membangun fondasi spiritual bagi komunitasnya. Kehadirannya adalah sebuah pelajaran berharga tentang kegigihan, keyakinan, dan betapa sebuah mimpi, sekecil apapun, dapat terwujud jika diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Dusun Ngentak beruntung memiliki sosok seperti Mbah Dolaiman, saksi bisu sekaligus pahlawan pembangunan yang akan selalu dikenang oleh generasinya

Diunggah Oleh: Tidak Diketahui