Kisah Sebuah Perjalanan Dari Ujung Pulau Ke Jantung Jawa Negeri Nusantara
KISAH SEBUAH PERJALANAN DARI UJUNG PULAU KE JANTUNG JAWA NEGERI
NUSANTARA
Mata terbuka melihat atap rumah, fajar baru saja merekah dari pulau
Pinang, Kepulauan Riau, ketika kami, para punggawa kuliah Kerja Nyata (KKN)
Nusantara Ke-V tahun 2025, memulai episode pertama dari perjalanan panjang
kami. Udara pagi yang sejuk berbalut embun, menjadi saksi bisu atas derap
langkah kaki yang penuh semangat bercampur haru bahagia. Roda-roda mobil yang
membawa kami mulai berputar perlahan, seolah enggan meninggalkan hangatnya
pelukan tempat tinggal. Di dalam kendaraan itu, tawa dan obrolan ringan menjadi
melodi pengiring, upaya untuk meredam debar jantung di dada. Perjalanan dari
Pinang menuju pelabuhan Uban ini bukan hanya sekedar pergeseran geografis,
melainkan gerbang pertama kami meninggalkan zona nyaman, membawa sepetak asa
dan segudang rencana pengabdian.
Satu jam berlalu, sampailah kami di pelabuhan uban, cakrawala baru
terbentang. Lautan biru kehijauan menyambut kami dengan riak-riak kecilnya.
Deru angin speedboat yang akan
membawa kami menyeberang ke pulau Batam terdengar seperti gendrengan perang
yang membangkitkan adrenalin. Perahu melesat, membelah ombak dengan gagahnya,
meninggalkan jejak buih putih yang sekejap mata hilang di telan birunya lautan
disertai ombak kecil dari angin sepoi. Terpaan angin asin dan percikan air laut
yang sesekali menerpa wajah menjadi pembabtisan pertama kami dengan alam bebas.
Selama perjalanan singkat namun mendebarkan itu, kami memandang pulau-pulau
kecil yang kami lalui, menyada betapa luasnya negeri ini dan betapa kecilnya
kami dai hadapan takdir pengabdian yang telah menanti kedatangan kami.
Dari hiruk pikuk pelabuhan Batam, perjalanan kami bertransformasi
ke angkasa. Bandara Hang Nadim menjadi saksi bisu saat kami pertama kalinya menjejakkan
kaki di dalam burung besi yang akan menerbangkan kami menuju jantung ibu kota,
Jakarta. Sensasi pada saat pesawat lepas landas, mendorong tubuh kami ke
sandaran kursi, terasa seperti dorongan kuat menuju masa depan. Dari jendela,
gugusan pulau indah Kepulauan Riau perlahan mengecil, berubah menjadi
titik-titik hijau di lautan yang tak bertepi. Dari ketinggian puluhan ribu
kaki, kami merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah mozaik
kebangsaan yang terbang di bawah sana. Rasanya semua bagaikan mimpi yang tak berujung,
rasanya semua ada dalam hayalan yang tak di sangka-sangka sebelumnya. Yang
bahkan ini bisa menjadi kenyataan.
Mendarat di Jakarta adalah sebuah gegar budaya tersendiri. Riuh
rendah denyut kehidupan kota metropolitan yang tak pernah tidur menyambut kami
dengan segala kemegahannya. Namun, kami hanyalah pelintas batas. Setelah
transit sejenak, yang lumayan panjang akibat cuaca yang tidak bersahabat,
perjalanan udara kami lanjutkan. Pesawat kedua yang kami tumpangi terasa
berbeda. Jika penerbangan pertama adalah tentang meninggalkan, penerbangan
kedua ini adalah tentang mendekati tujuan yang kami nantikan. Semangat kami
kembali membuncah saat pramugari mengumumkan bahwa kami akan segera mendarat di
Yogyakarta, kota yang kaya akan budaya, sejarah dan keramahan, membuat kami
semakin tidak sabar untuk segera sampai ke kota tujuan.
Menghirup udara Yogyakarta untuk pertama kalinya terasa magis. Aroma
khas yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, perpaduan wangi tanah basah dan
semerbak bunga kamboja dari kejauhan membuat mata ini tidak bisa berkedip.
Perjalanan masih belum usai. Dari bandara, kami memilih transportasi yang lebih
membumi, lebih menjiwai jiwa kota istimewa ini. kereta api, nama yang tepat
untuk diberi pada kendara satu ini. suara klakson lokomotif yang khas dan derit
rel baja saat kereta melaju perlahan menuju stasiun ikonik, Stasiun Tugu,
memberikan kami kesempatan untuk menyaksikan fragmen-fragmen kehidupan Jawa. Kilauan
lampu jalanan, di tambah dengan nuansa redup lampu jalanan menjadikan kota
Yogyakarta ini kental akan budaya dan istiadatnya. Rumah yang di baluti ukiran khas pulau Jawa menambah kesan estetika pada struktur
bangunan, menenangkan jiwa yang lelah namun tetap semangat.
Tiba di Stasiun Tugu, kami
seolah disambut oleh sejarah kembali, arsitektur kolonial yang megah dan
suasana yang tak lekang oleh waktu di tambah sinaran lampu pada setiap
bangunannya membuat kami terdiam sejenak, meresapi setiap detail buatan tangan
sang pengukir. Di sinilah, jantung kota Gudeg, penjemputan terakhir telah
menanti. Kami kembali menaiki kendaraan roda empat, sebuah mobil yang akan
membawa kami ke perhentian pamungkas dari perjalanan epik ini, yakni
Universitas Hotel, tempat kami akan digembleng sebelum terjun ke lokasi
pengabdian.
Perjalanan di lanjutkan, mobil melaju membelah jalanan Yogyakarta
yang mulai ramai di malam hari. Melewati Tugu Pal Putih yang gagah, melintasi
sudut-sudut kota yang artistik, hingga akhirnya tiba di gerbang Universitas
Hotel. Lelah letih sangat kami rasakan, isi perut di tambah suara gemuruh sudah
mulai kedengaran di antara kedua kuping. Kaki melangkah dengan nafas yang
tenang kami melihat ada sebuah warung sederhana yang menjadi ciri khas
Yogyakarta. Namanya warungmindo, sebuah warung yang biasa saja namun punya
nilai istimewa tersendiri. Saat mesin mobil di matikan, ada jeda hening yang
panjang di antara kami. Saling berpandang-pandangan, senyum lelah namun
kepuasan terukir di wajah kami. Perjalanan multi moda menguras tenaga dari
darat, laut, udara, hingga rel kereta akhinya telah kami akhiri bersama. Namun
kami semua tahu, ini bukanlah akhir. Ini
adalah awal dari sebuah perjalanan, kisah pengabdian yang sesungguhnya.
Perjalanan fisik telah usai, kini saatnya memulai perjalanan hati mengarungi
mimpi dengan suguhan kasur empuk cukup untuk menahan lelahnya badan, letihnya
mata selama perjalanan.