KKN Kolaborasi 20251 Updated: 08 July 2025 Dilihat: 166 kali

Kisah Sebuah Perjalanan Dari Ujung Pulau Ke Jantung Jawa Negeri Nusantara

KISAH SEBUAH PERJALANAN DARI UJUNG PULAU KE JANTUNG JAWA NEGERI NUSANTARA

Mata terbuka melihat atap rumah, fajar baru saja merekah dari pulau Pinang, Kepulauan Riau, ketika kami, para punggawa kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Ke-V tahun 2025, memulai episode pertama dari perjalanan panjang kami. Udara pagi yang sejuk berbalut embun, menjadi saksi bisu atas derap langkah kaki yang penuh semangat bercampur haru bahagia. Roda-roda mobil yang membawa kami mulai berputar perlahan, seolah enggan meninggalkan hangatnya pelukan tempat tinggal. Di dalam kendaraan itu, tawa dan obrolan ringan menjadi melodi pengiring, upaya untuk meredam debar jantung di dada. Perjalanan dari Pinang menuju pelabuhan Uban ini bukan hanya sekedar pergeseran geografis, melainkan gerbang pertama kami meninggalkan zona nyaman, membawa sepetak asa dan segudang rencana pengabdian.

Satu jam berlalu, sampailah kami di pelabuhan uban, cakrawala baru terbentang. Lautan biru kehijauan menyambut kami dengan riak-riak kecilnya. Deru angin speedboat  yang akan membawa kami menyeberang ke pulau Batam terdengar seperti gendrengan perang yang membangkitkan adrenalin. Perahu melesat, membelah ombak dengan gagahnya, meninggalkan jejak buih putih yang sekejap mata hilang di telan birunya lautan disertai ombak kecil dari angin sepoi. Terpaan angin asin dan percikan air laut yang sesekali menerpa wajah menjadi pembabtisan pertama kami dengan alam bebas. Selama perjalanan singkat namun mendebarkan itu, kami memandang pulau-pulau kecil yang kami lalui, menyada betapa luasnya negeri ini dan betapa kecilnya kami dai hadapan takdir pengabdian yang telah menanti kedatangan kami.

Dari hiruk pikuk pelabuhan Batam, perjalanan kami bertransformasi ke angkasa. Bandara Hang Nadim menjadi saksi bisu saat kami pertama kalinya menjejakkan kaki di dalam burung besi yang akan menerbangkan kami menuju jantung ibu kota, Jakarta. Sensasi pada saat pesawat lepas landas, mendorong tubuh kami ke sandaran kursi, terasa seperti dorongan kuat menuju masa depan. Dari jendela, gugusan pulau indah Kepulauan Riau perlahan mengecil, berubah menjadi titik-titik hijau di lautan yang tak bertepi. Dari ketinggian puluhan ribu kaki, kami merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, sebuah mozaik kebangsaan yang terbang di bawah sana. Rasanya semua bagaikan mimpi yang tak berujung, rasanya semua ada dalam hayalan yang tak di sangka-sangka sebelumnya. Yang bahkan ini bisa menjadi kenyataan.

Mendarat di Jakarta adalah sebuah gegar budaya tersendiri. Riuh rendah denyut kehidupan kota metropolitan yang tak pernah tidur menyambut kami dengan segala kemegahannya. Namun, kami hanyalah pelintas batas. Setelah transit sejenak, yang lumayan panjang akibat cuaca yang tidak bersahabat, perjalanan udara kami lanjutkan. Pesawat kedua yang kami tumpangi terasa berbeda. Jika penerbangan pertama adalah tentang meninggalkan, penerbangan kedua ini adalah tentang mendekati tujuan yang kami nantikan. Semangat kami kembali membuncah saat pramugari mengumumkan bahwa kami akan segera mendarat di Yogyakarta, kota yang kaya akan budaya, sejarah dan keramahan, membuat kami semakin tidak sabar untuk segera sampai ke kota tujuan.

Menghirup udara Yogyakarta untuk pertama kalinya terasa magis. Aroma khas yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, perpaduan wangi tanah basah dan semerbak bunga kamboja dari kejauhan membuat mata ini tidak bisa berkedip. Perjalanan masih belum usai. Dari bandara, kami memilih transportasi yang lebih membumi, lebih menjiwai jiwa kota istimewa ini. kereta api, nama yang tepat untuk diberi pada kendara satu ini. suara klakson lokomotif yang khas dan derit rel baja saat kereta melaju perlahan menuju stasiun ikonik, Stasiun Tugu, memberikan kami kesempatan untuk menyaksikan fragmen-fragmen kehidupan Jawa. Kilauan lampu jalanan, di tambah dengan nuansa redup lampu jalanan menjadikan kota Yogyakarta ini kental akan budaya dan istiadatnya. Rumah yang di baluti ukiran  khas pulau Jawa menambah kesan estetika pada struktur bangunan, menenangkan jiwa yang lelah namun tetap semangat.

Tiba di  Stasiun Tugu, kami seolah disambut oleh sejarah kembali, arsitektur kolonial yang megah dan suasana yang tak lekang oleh waktu di tambah sinaran lampu pada setiap bangunannya membuat kami terdiam sejenak, meresapi setiap detail buatan tangan sang pengukir. Di sinilah, jantung kota Gudeg, penjemputan terakhir telah menanti. Kami kembali menaiki kendaraan roda empat, sebuah mobil yang akan membawa kami ke perhentian pamungkas dari perjalanan epik ini, yakni Universitas Hotel, tempat kami akan digembleng sebelum terjun ke lokasi pengabdian.

Perjalanan di lanjutkan, mobil melaju membelah jalanan Yogyakarta yang mulai ramai di malam hari. Melewati Tugu Pal Putih yang gagah, melintasi sudut-sudut kota yang artistik, hingga akhirnya tiba di gerbang Universitas Hotel. Lelah letih sangat kami rasakan, isi perut di tambah suara gemuruh sudah mulai kedengaran di antara kedua kuping. Kaki melangkah dengan nafas yang tenang kami melihat ada sebuah warung sederhana yang menjadi ciri khas Yogyakarta. Namanya warungmindo, sebuah warung yang biasa saja namun punya nilai istimewa tersendiri. Saat mesin mobil di matikan, ada jeda hening yang panjang di antara kami. Saling berpandang-pandangan, senyum lelah namun kepuasan terukir di wajah kami. Perjalanan multi moda menguras tenaga dari darat, laut, udara, hingga rel kereta akhinya telah kami akhiri bersama. Namun kami semua tahu, ini  bukanlah akhir. Ini adalah awal dari sebuah perjalanan, kisah pengabdian yang sesungguhnya. Perjalanan fisik telah usai, kini saatnya memulai perjalanan hati mengarungi mimpi dengan suguhan kasur empuk cukup untuk menahan lelahnya badan, letihnya mata selama perjalanan.

Diunggah Oleh: Muhammad Almujrin