KKN Reguler 20251 Updated: 23 July 2025 Dilihat: 108 kali

KKN KELONG SERIES : "Lelah dan Sakit Bukan Alasan untuk Berhenti Mengabdi"

Tak banyak yang tahu bahwa di balik senyum ramah mahasiswa KKN yang hadir di tengah masyarakat, tersimpan cerita perjuangan yang tak ringan. Sejak awal menginjakkan kaki di Desa Kelong, Tim KKN dari STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau telah berikrar untuk hadir bukan hanya sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai sahabat bagi masyarakat. Dua minggu berjalan, komitmen itu diuji dengan banyak hal—cuaca yang tak menentu, medan yang tidak selalu ramah, waktu yang terus berpacu, hingga kondisi fisik yang mulai menurun.

Beberapa anggota tim mulai menunjukkan gejala kelelahan. Salah satunya kini sedang jatuh sakit. Ia adalah sosok yang selama ini selalu menjadi bagian dari denyut kegiatan: ikut audiensi, mendampingi anak-anak TPQ, menyusun laporan, bahkan terkadang menjadi penyemangat saat malam mulai terasa berat. Kini ia hanya bisa terbaring, beristirahat dari aktivitas yang biasa dijalani dengan penuh antusias.

“Kami semua terkejut, karena dia biasanya aktif dan kuat. Tapi mungkin kelelahan yang ditahan akhirnya muncul juga. Kami semua ikut merasa kehilangan semangat saat tahu dia sakit,” ucap salah satu anggota tim.

Namun justru dari situ semua anggota tim belajar: bahwa pengabdian bukan hanya tentang seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi juga tentang seberapa tulus kita hadir untuk satu sama lain. Rekan-rekan mulai saling menjaga, saling mengingatkan untuk makan tepat waktu, istirahat cukup, dan saling menyemangati di sela-sela kesibukan. KKN yang awalnya hanya dianggap sebagai kewajiban akademik, perlahan berubah menjadi rumah kebersamaan.

Menariknya, perhatian tak hanya datang dari internal tim. Warga Desa Kelong pun turut menunjukkan simpati. Beberapa orang tua mengirimkan makanan hangat, anak-anak TPQ datang menengok dengan senyum lugu dan doa-doa polos mereka. Sikap sederhana namun penuh kasih itu menjadi energi baru bagi tim.

“Kami tersentuh ketika salah satu ibu datang dan bilang, ‘Nak, kalau capek, istirahat dulu. Jangan sampai sakit semua, ya’. Rasanya seperti punya ibu kedua di sini,” ungkap salah satu mahasiswa sambil tersenyum haru.

Kisah ini menjadi bukti bahwa pengabdian di tengah masyarakat bukan sekadar rutinitas. Ini adalah sekolah kehidupan yang mengajarkan banyak hal: kesabaran, empati, kerja sama, dan rasa syukur. Sakit memang bukan harapan, tapi ia kadang datang sebagai pengingat—bahwa manusia punya batas, dan batas itu bisa dijaga bersama-sama.

Kini, meski satu di antara mereka harus beristirahat, semangat tim KKN tak padam. Justru semakin menguat. Mereka tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil, setiap senyum yang mereka bagi, adalah bagian dari jejak pengabdian yang tak akan hilang. Karena pengabdian yang tulus akan selalu menemukan jalannya, bahkan di tengah lelah dan sakit sekalipun.

Diunggah Oleh: Kelong