KKN Nusantara 2025: Bukan Sekadar Melintasi Antar Pulau
Tanjungpinang-Yogyakarta - 6 Juli tepatnya hari ahad, hari yang ku tunggu-tunggu tiba. Tak seperti biasa, sesuatu yang menegangkan terkadang mengundang keinginan tidak tidurku. Namun, kali ini mata ingin sekali tertutup cepat. Ini penerbangan pertamaku, namun aktivitas yang ku lewati hari ini cukup menghabiskan energiku. Membayangkan kegiatan esok hari saja sudah melelahkan. Benar saja, semua moda transportasi ku cobain. Mulai dari mobil, kapal, mobil lagi, pesawat, terakhir kereta api.
Kisah perjalanan ini akan menghabiskan waktu dan energimu. Saran aku, yuk duduk sambil makan cemilan, ya! Benar saja mulai dari subuh hari, aku sudah bersiap-siap mengingat kembali barang apa yang tertinggal karena tidak mungkin untuk membawa diriku kembali ke Tanjungpinang hanya untuk mengambil barang yang tertinggal, bukan? Pukul 07.30 waktu Tanjungpinang, aku berangkat bersama Pak Abd dan Mujrin ke Tanjung Uban untuk naik speedboat sekitar 30 menit. Perjalanan ketika waktu liburan menampung banyak jiwa yang berpergian, dibuktikan dengan padatnya bandara Hang Nadim.
Manusia kepulauan ini, yang seringnya menggunakan moda transportasi laut memberikan kesan satisfying ketika proses take-off. Ku kira penerbangan pertamaku akan terjadi aktivitas muntah ataupun pusing, nyatanya tidak. Tak henti-hentinya ku bersyukur karena dari atas Kepulauan Riau menyuguhkan pulau-pulau dan lautan serta kondisi udara yang cukup bersih. Memang benar Kepulauan Riau surganya lautan. Beda halnya kondisi udara di Jakarta yang menampilkan pemandangan padat bangunan beratap langit abu dan mendung.


Sehari ini aku telah melakukan take-off dan landing dua kali. Pertama, berangkat dari Batam lalu transit ke Jakarta sekitar 3 jam dan ternyata delay hingga nambah 1 jam lagi deh. Penerbangan kedua pada pukul 18.30 WIB berangkat dari Jakarta ke Yogyakarta yang memakan waktu sekitar 1 jam. Berlanjut dengan moda kereta api, sebentar saja seitar 30 menit. Perjalanan naik kereta pada malam hari cukup mengecewakan karena tidak terlihat apapun dari jendela. Mungkin hari selanjutnya akan ku coba naik kereta lagi pada hari yang masih terang.

Perjalanan panjang yang cukup melelahkan bukan? Tenang saja, jalan-jalan masih menjadi kegiatan favorit ku. Perjalanan yang panjang akan terasa saat mau tidur saja. Kalau ada alat penghitung banyaknya rasa syukur dan senyum yang ku lakukan, mungkin tidak mampu alat itu mengukurnya. Setiap detail perjalanannya pasti ada ibrah yang menegaskan bahwa memang Allah itu baik dan adil. Luasnya bumi Allah ku rasa tidak akan cukup ku jelajahi dengan usia manusia. Semoga ini menjadi pintu dari langkah-langkah panjangku lainnya.
Diunggah Oleh: Lulu Khairunnisa