KKN Kolaborasi 20251 Updated: 16 July 2025 Dilihat: 108 kali

Menggaungkan Cinta Baca Tulis Al-Qur’an

Kedondong 1 - Rutinitas ngaji anak-anak di Kedondong 1 dilaksanakan setelah Magrib yaitu pada hari Senin hingga Sabtu. Ketika azan berkumandang, warga segera menuju ke musala dan masjid. Kedondong 1, dukuh dengan keindahan suara jangkrik dan ternak dikelilingi pohon-pohon besar. Penerangan lampu seadanya cukup membangkitkan rasa siap siaga ku untuk berlari. Setelah azan diisi dengan salawat, berlatar suara salawat ini lah kami berjalan menuju Masjid Ash-Shobirin. Semangat keagamaan di Kedondong 1 ini cukup kuat. Kegiatan salat berjamaah, mengaji setelah Magrib, dan majelis yasin dan zikir. Salat sunah rawatib, qobliyah Magrib pun menjadi agenda rutinan di sini. Sebagai langkah menyebarkan pesan cinta Al-Qur’an kepada masyarakat Kedondong 1 maka kami berusaha masuk untuk berbagi sedikit ilmu. Kegiatan di taman pendidikan Al-Qur’an di sini hanya sekadar antri mengaji Al-Qur’an bahkan ada yang mengaji hanya satu ayat saja.

Semangat mengaji cukup besar, tapi untuk kemampuan membaca perlu adanya perubahan. Kami sadar bahwa kedatangan kami di dukuh sini bukan merancang program kerja di proposal semata, tapi ketika kami pulang kondisi dukuh harus lebih baik. Berbekal label perguruan tinggi keagamaan Islam kami berusaha memperbaiki sedikit dari bacaan anak-anak. Memperbaiki kebiasaan membaca Al-Qur’an yang salah akan memakan waktu yang cukup lama. Tujuan kami tidak hanya memperbaiki bacaan tapi berusaha menanamkan rasa cinta dan rasa ingin terus belajar Al-Qur’an sehingga ketika kami tidak berada di tengah mereka, mereka akan terus meningkatkan kualitas diri dan dukuh.

Duduk bersama anak-anak terkadang mampu menyulut emosi dengan tingkah laku mereka. Tapi, tanpa tingkah laku dan suara ramai mereka cukup mengosongkan jiwaku. Rabu, 16 Juli ini kami menambah pembelajaran tidak hanya membaca tapi juga menulis. Ada yang sudah Al-Qur’an namun belum bisa menulis. Proses pembelajaran khat selain mendukung aktifitas belajar juga meningkatkan fokus dan ketenangan. Mereka harus berani belajar dan salah. Jika hanya memposisikan diri sebagai guru yang bisa memberi perintah sepertinya menjadikan diri mereka jenuh dan enggan datang kembali untuk belajar. Jadi kami memposisikan diri sebagai teman belajar. Sebab awal kedatangan kami di TPQ kami diberikan pesan untuk jangan terlalu ‘keras’ mengoreksi. Akhirnya kami tetap memperbaiki bacaan mereka secara bertahap. Aku juga memikat semangat mereka dengan janji akan memberikan hadiah untuk yang tulisannya bagus. Pemberian reward dilakukan untuk memotivasi, tentu diseimbangkan dengan punishment. Harapan kami semoga bisa mengasah rasa tanggung jawab mereka.  

Diunggah Oleh: Lulu Khairunnisa