Menggaungkan Cinta Baca Tulis Al-Qur’an
Kedondong
1
- Rutinitas ngaji anak-anak di Kedondong 1 dilaksanakan setelah Magrib yaitu
pada hari Senin hingga Sabtu. Ketika azan berkumandang, warga segera menuju ke
musala dan masjid. Kedondong 1, dukuh dengan keindahan suara jangkrik dan
ternak dikelilingi pohon-pohon besar. Penerangan lampu seadanya cukup
membangkitkan rasa siap siaga ku untuk berlari. Setelah azan diisi dengan
salawat, berlatar suara salawat ini lah kami berjalan menuju Masjid Ash-Shobirin.
Semangat keagamaan di Kedondong 1 ini cukup kuat. Kegiatan salat berjamaah, mengaji
setelah Magrib, dan majelis yasin dan zikir. Salat sunah rawatib, qobliyah Magrib pun menjadi agenda
rutinan di sini. Sebagai langkah menyebarkan pesan cinta Al-Qur’an kepada
masyarakat Kedondong 1 maka kami berusaha masuk untuk berbagi sedikit ilmu.
Kegiatan di taman pendidikan Al-Qur’an di sini hanya sekadar antri mengaji
Al-Qur’an bahkan ada yang mengaji hanya satu ayat saja.
Semangat mengaji cukup besar, tapi untuk kemampuan membaca perlu adanya perubahan. Kami sadar bahwa kedatangan kami di dukuh
sini bukan merancang program kerja di proposal semata,
tapi ketika kami pulang kondisi dukuh harus lebih baik. Berbekal label
perguruan tinggi keagamaan Islam kami berusaha memperbaiki sedikit dari bacaan
anak-anak. Memperbaiki kebiasaan membaca Al-Qur’an yang salah akan memakan
waktu yang cukup lama. Tujuan kami tidak hanya memperbaiki bacaan tapi berusaha
menanamkan rasa cinta dan rasa ingin terus belajar Al-Qur’an sehingga ketika
kami tidak berada di tengah mereka, mereka akan terus meningkatkan kualitas diri
dan dukuh.
Duduk bersama anak-anak
terkadang mampu menyulut emosi dengan tingkah laku mereka. Tapi, tanpa tingkah
laku dan suara ramai mereka cukup mengosongkan jiwaku. Rabu, 16 Juli ini kami
menambah pembelajaran tidak hanya membaca tapi juga menulis. Ada yang sudah
Al-Qur’an namun belum bisa menulis. Proses
pembelajaran khat selain mendukung
aktifitas belajar juga meningkatkan fokus dan ketenangan. Mereka harus berani
belajar dan salah. Jika hanya memposisikan diri sebagai guru yang bisa memberi perintah sepertinya menjadikan diri mereka jenuh dan enggan
datang kembali untuk belajar. Jadi kami memposisikan diri sebagai teman
belajar. Sebab awal kedatangan kami di TPQ kami diberikan pesan untuk jangan
terlalu ‘keras’ mengoreksi. Akhirnya kami tetap memperbaiki bacaan mereka
secara bertahap. Aku juga memikat semangat mereka dengan janji akan memberikan
hadiah untuk yang tulisannya bagus. Pemberian reward dilakukan untuk memotivasi, tentu diseimbangkan dengan punishment. Harapan kami semoga bisa
mengasah rasa tanggung jawab mereka.