Mengintip Dapur Manis Ibu Pingka: Kisah Sukses UMKM Kue di Kampung Segiling
Bintan, 17 Juli 2025
Kelompok kami berkesempatan mengunjungi kediaman Ibu Pingka, seorang pelaku UMKM yang telah 10 tahun gigih berkecimpung di dunia perkuean, memproduksi beragam kue kering dan kue basah yang disukai masyarakat. Wawancara yang berlangsung hangat ini mengungkap perjalanan menarik dari usaha rumahan hingga menjadi pemasok kue yang cukup dikenal di beberapa wilayah.
Mengawali usahanya dengan berjualan keliling dalam skala kecil, Ibu Pingka perlahan namun pasti mengembangkan jaringannya. “Awalnya jualan dikit saja keliling, lama-lama nitip, dan akhirnya jualan di warung,” kenangnya. Kini, produk-produknya bisa hadir di depan posyandu, Tugu Sampan, dan bahkan menjangkau hingga ke Sri Bintan, terutama saat bulan puasa.

Fokus Musiman dan Inovasi Produk
Ibu Pingka mengungkapkan bahwa produksi kue kering miliknya sangat aktif saat bulan puasa, khususnya untuk kue Lebaran. Beberapa kue khas Bugis seperti kue Borobudur dan baruas menjadi favorit, selain stik dan jenis kue kering lainnya. “Paling aktif ketika bulan puasa,” ujarnya. Tak heran, pesanan kue kering seringkali mencapai 10 kg per hari, terutama untuk kue beruas yang paling banyak diorder.
Selain kue kering, Ibu Pingka juga dikenal dengan aneka kue basah tradisional yang menggugah selera, seperti klepon, jalangkote, epok-epok, tepung bungkus, nagasari, risol, dan kue peria. Bahkan, ia juga menyediakan sarapan pagi berupa gado-gado, lontong, nasi lemak, dan nasi ayam, menunjukkan diversifikasi produknya. Kue basah seperti onde-onde, peria, pawa, dan epok-epok menjadi beberapa yang paling diminati.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Perjalanan Ibu Pingka tidak luput dari tantangan. Meskipun telah memiliki sertifikat BPOM yang secara rutin dicek setiap bulannya, ia masih terkendala dalam mendapatkan sertifikat halal. Hal ini juga menjadi alasan mengapa produk-produknya belum memiliki logo dan nomor kontak yang tertera. “Belum ada logo karena masih takut belum ada sertifikat halal,” jelasnya.
Namun, semangat Ibu Pingka patut diacungi jempol. Ia melihat adanya peningkatan yang cukup signifikan dari hasil jualannya. Bayangkan, satu hari 300-an kue bisa keluar dari kampung tempat tinggalnya! Untuk pemasaran, Ibu Pingka memanfaatkan status WhatsApp pribadinya untuk mengirimkan barang dagangannya dan menerima banyak pesanan dari berbagai daerah seperti Manis Renggo, Batam, dan Sri Bintan.
Dalam hal ini, Ibu Pingka berharap dapat segera memiliki sertifikat halal agar bisa memasang logo dan informasi kontak pada produknya, sehingga jangkauan pasarnya bisa semakin luas. Kisah Ibu Pingka adalah inspirasi bagi banyak pelaku UMKM lain, menunjukkan bahwa dengan ketekunan dan inovasi, usaha rumahan pun bisa berkembang pesat dan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal.
Diunggah Oleh: Teluk Sebong 14