Mengupas Hikmah Wudu: Pengajian Ahad Pagi di Masjid Baitur Rohmah
Ngipik Rejo, Kalibawang- Undangan pengajian sampai ke pada kami dari ibu-ibu Kedondong 1 untuk ikut serta
kegiatan pengajian ahad pagi (13 Juli 2025) di Masjid Baitur Rohmah. Berdasarkan
informasi yang kami dapatkan, pengajian ini rutin dilakukan setiap ahad pagi. Kami
diarahkan untuk berkumpul di titik kumpul TK setempat. Sekitar pukul setengah enam pagi kami sudah berjalan menuju ke titik kumpul, berselimut udara yang sejuk. Diperkirakan
akan berangkat pukul 6.15 WIB menuju lokasi pengajian. Kami kira perjalanan
akan jauh yang mengharuskan menggunakan transportasi, ternyata kami bisa
berjalan kaki menuju lokasi pengajian. Kami berjalan bersama beberapa ibu-ibu
Kedondong 1. Kami bertukar cerita, mengulik informasi mengenai kondisi dukuh
dan kegiatan rutinan yang ada di dukuh setempat. Ketika pergi tidak terasa
jauhnya lokasi pengajian dari posko, tapi ketika perjalanan pulang cukup
menyiksa kaki terlebih kondisi kami yang masih mengantuk setelah kemarin malam
kami selesai penyampaian progam kerja di depan masyarakat. Aku penasaran berapa
meter sebenarnya jarak kami berjalan kaki tadi, ternyata sekitar 800 meter.
Kegiatan
pengajian ini mulai dilaksanakan pada pukul setengah tujuh dan selesai sekitar
pukul delapan. Sesampainya kami di masjid kami disambut dengan roti dan teh
hangat. Cukup membukakan mata yang masih setengah tertutup. Jamaah yang hadir
sangat ramai dari berbagai daerah. Ada yang menggunakan mobil bak terbuka yang
mengangkut manusia menggunakan helm. Sesuatu hal yang baru melihat pemandangan
pagi ini. Bahkan, pelataran masjid penuh dengan tikar dan karpet hingga ke
belakang. Tak ku sangka bakal seramai ini dengan konsumsi yang menyegarkan
mata. Jamaah pengajian pagi ini suasananya seperti hari raya, begitu padat. Kegiatan berlangsung tanpa ada pemandu acara, jadi runtutan acara
berjalan begitu saja. Pembaca Al-Qur’an langsung maju, kata sambutan begitupun
sang penceramah langsung maju begitu saja. Kegiatan ceramah dilakukan secara
satu arah dari penceramah tanpa ada sesi Tanya jawab yang disediakan.
Sebagai pujakesuma (puteri Jawa kelahiran Sumatera) yang minim kemampuan berbahasa Jawa cukup menghambat proses transfer ilmu kali ini. Semua orang yang berbicara di depan menggunakan bahasa Jawa, kecuali pembaca Al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab. Banyak kata yang tidak ku ketahui padanan katanya di bahasa Indonesia, tapi setidaknya dari pengajian pagi ini memberikan ilmu untuk selalu menjaga wudu dimana pun dan kapan pun. Sambil menyeruput teh hangat dan roti, ku nikmati pengajian dan suasana padukuhan yang masih asing di ingatanku.
.jpeg)
