KKN Kolaborasi 20251 Updated: 23 July 2025 Dilihat: 122 kali

Menyelami Cita Rasa Jajanan Pasar Murah Nan Nikmat

Daerah Istimewa Yogyakarta- Cita rasa makanan Jogja dikenal dominan rasa manis. Ku kira penilaian ini tidak benar adanya, ternyata setelah ku mencicipi beberapa jajanan pasar rasa manis memang mengungguli rasa lain. Selain rasa manis, rasa sederhana dipertengahan, tidak begitu asin, pedas, ataupun manis. Lidah yang sudah akrab dengan rasa gurih dan pedasnya makanan sumatera sedikit mengejutkan, seakan ada hal yang hilang ketika makan yaitu rasa pedas sambal dan gurihnya santan. Padahal aku bukan penyuka santan atau asin, tapi sejauh rasa yang penah ku cicipi di Jogja cukup mengubah cita rasa lidahku.

Hari pertama di posko kami sudah makan nasi ayam dengan pilihan sambal hijau dan terasi. Rasanya tidak begitu berbeda, tetapi bungkusan makanannya yang berbeda. Rata-rata bungkusan sambal di Kepulauan Riau menggunakan plastik tali merah, tetapi selama jajan dan sajian di berbagai acara belum pernah dijumpai plastik tali merah ini. Di lokasi KKN plastik bungkusannya menggunakan plastik bening tipis biasa tanpa bantuan alat ikat apapun. Kemasan makanan ringan dari kegiatan yasin dan tahlil pun menggunakan plastik bening karena biasanya di Kepulauan Riau menggunakan kotak kertas atau palstik mika.


Kemudian, nasi bungkus yang kami dapatkan dari kegiatan ziarah kubur di Masjid Sunan Kalijaga rasanya cocok di lidahku. Hanya nasi biasa dengan lauk tahu krecek dan telur dadar, tidak ada tersentuh rasa pedas dari lauk ini tapi perpaduan rasa yang disajikan pas antara manis gurih. Selain nasi kami juga mendapatkan makanan ringan berisi kue apem, tahu isi, dan kerupuk tahu serta tidak lupa teh tubruk hangat. Harga murah tidak menghilangkan rasa enak dan komplit dari makanan yang kami beli bahkan cita rasa yang disajikan komplit dan unik. Seperti sate madura keliling yang lewat depan posko dibanderol dengan harga sepuluh ribu sudah dapat enam tusuk sate ayam, lontong daun, kuah kacang dan pelengkap potongan cabe bawang merah menjadikan cita rasa yang begitu nikmat. 

Selanjutnya, bakwan kawi menjadi makanan yang baru aku ketahui saat sampai di sini. Mulai dari harga lima ribu sudah bisa dapat bakso urat jumbo dan bakwan kawi biasa. Bakwan kawi sebenarnya hanya berupa tepung aci dan lebih familiar dengan sebutan batagor dibandingkan bakso. Nah, kalau yang foto sebelah bakwan kawi ini bakso tetelan di tempat yang berbeda. Porsi bakso dengan tetelan yang cukup banyak ini hanya dihargai tiga belas ribu. Rasa bakso ataupun kuahnyapun sudah ngaldu daging banget. Harga minuman di warung bakso in juga murah, es jeruk peras dijajakan harga tiga ribu. Oiya, kami juga beli nasi kuning dari salah satu UMKM milik warga Kedondong 1 yaitu Bu Trimah. Harganya hanya tiga ribu, sudah dapat tempe goreng kering dan potongan telur dadar. Kami tidak berekspektasi dengan harga yang murah ini, tapi ternyata enak banget. Lantas, dari mana beliau mendapatkan keuntungan ya. Murah banget bukan? Kalau murah dan enak begini, bisa-bisa berat badan naik. Duh, bahaya banget!


Diunggah Oleh: Lulu Khairunnisa