Pasar Kebonagung: Zaman Canggih tapi Masih Menggunakan Neraca Duduk?
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta - Piket jadwal masak
akan menghampiri setiap individu dalam kelompok kami. Setiap harinya yang
menjadi topik berpikir ku adalah besok masak apa? Aku menganut prinsip bahwa
masak adalah keterampilan dasar yang harus dimiliki semua orang. Walaupun masak
telur ceplok udah bisa bertahan hidup, kan? Aku akan masak sesuai suasana hati.
Tapi cukup lucu ketika zaman serba digital dan mudah untuk mencari resep
masakan di internet saja aku enggan. Akhirnya, bermodalkan nekat kita coba
masakan yang cukup mudah di jadwal piket masak hari ini, Senin, 14 Juli 2025.
KKN kepanjangan dari Kuliah Kerja Nyantai, ngga dong. Tenang aja pekan ini kami masih dalam proses riset kondisi, permasalahan, potensi warga dan dukuh. Hari ini jadwalnya aku piket masak. Pagi-pagi pukul 5.30 kami cabut ke Pasar dengan kondisi badan yang kedinginan. Cukup masak yang simple saja sesuai budget, cah kangkung, tempe goreng dengan sambal bawang. Sudah mantep puoll untuk perut yang kelaparan, hehe. Pasar Kebonagung alamat lengkapnya di Kliran, Sendangagung, Kec. Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Yuk yuk, mampir dulu!
.jpeg)

Perjalanan menuju ke
pasar ini luar biasa cantiknya. Kami melewati jembatan dengan pemandangan bukit, Merapi, Merbabu, dan sungai yang berkabut beratap langit biru. Pemandangan ini seakan
menyampaikan ucapan selamat datang kepada kami. Pemandangan yang disuguhkan sepadan
dengan usaha bangun pagi, badan kedinginan, dan sisa lelah kegaiatan kemarin. Berbeda
dengan kondisi pasar asalku, Tanjungpinang, jam setengah 6 udah ramai. Sesampainya
kami di pasar ini belum semua pedagang datang dan mayoritas penjual sudah
berumur. Sembari menunggu lapak pada buka, ku memutuskan membeli jajanan pasar.
Pengennya mencicipi jajanan pasar wingko, ataupun gudeg tapi belum tertangkap
bentuknya oleh mataku. Akhirnya, beli serabi saja. Rasanya lebih enak daripada
serabi yang pernah ku rasakan, rasa manisnya pas.
Harga sayur-mayur,
ayam, tempe, tahu cukup murah. Sayur-mayur tersaji dengan segar hingga tak terlihat cabai kering merah di pasaran. Padahal kami berencana mengolah makanan dengan cabai merah kering. Berbekal uang seratus ribu untuk dua kali masak
dalam sehari ternyata masih menyisakan kembalian. Hal unik lain juga ku temukan
pada proses menimbang barang dagangan yang masih menggunakan neraca duduk. Mengundang rasa curiga terhadap keakuratan penimbangan, khususnya untuk barang yang ringan. Oiya,
di sini untuk pembelian telur berdasarkan berat bukan perbiji, loh. Menurut
kalian lebih murah harag perbiji atau kiloan? Lalu, untuk lokasi penjualan
ayam, daging, atau ikan belum kami temukan di pasar ini. Jika ingin membeli
ayam, kami harus keluar dari pasar dan membelinya di pinggir jalan. Sebagai
anak kepulauan pasti yang dicari ikan laut atau seafood. Tapi, sejauh ini belum terlihat wujud hewan-hewan laut ini.
Kemungkinan harga yang ditawarkan lebih mahal karena lokasi pasar yang jauh
dari laut.