Pelaksanaan Pelepasan, Penerjunan, Peserta KKN Nusantara Ke-V
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, menebarkan sapuan warna
jingga pucat di langit kota yang masih menggeliat. Embun pagi dinginnya kota
Yogyakarta masih membasahi dedaunan ketika ribuan mahasiswa dengan jaket
almamater seragam mulai memadati lapangan rektorat. Ini adalah hari yang di
nanti-nantikan sekaligus mendebarkan hari pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN)
Nusantara Ke-V. Udara dipenuhi bisik-bisik penuh semangat, tawa gugup, dan dengungan
harapan menggetarkan dada. Di tengah hamparan lautan manusia. Aruna dan
sembilan temannya dalam satu unit berdiri melingkar, saling melempar senyum
untuk menenangkan debar di dada masing-masing. Mereka akan mengabdikan diri di
sebuah desa terpencil di ujung pulau, sebuah tempat yang namanya saja baru
mereka dengar beberapa minggu lalu dari sebuah peta buta.
Pelaksanaan pelepasan berlangsung dengan penuh khidmat di bawah
tatapan matahari yang mulai meninggi menjulang menyinari wajah. Wejangan dari
para rektor, pesan dari para dosen pembimbing, hingga tepuk tangan gemuruh yang
membahana seakan menjadi bekal terakhir sebelum mereka benar-benar dilepaskan
ke medan pengabdian. Ucapan seperti “agen perubahan”, “pemberdayaan
masyarakat”, dan “jaga nama baik almamater” berdengung, menjadi mantra yang
mengiringi langkah mereka menuju deretan bus besar yang telah menunggu untuk
mengantarkan mereka ke medan pengabdian. Ketika busa berdesis menutup, itulah
momen sesungguhnya. Hiruk pikuk kota perlahan tertinggal di belakang,
digantikan oleh pemandangan yang bergulir monoton di balik jendela. Perjalanan
panjang dimulai, sebuah transisi nyata dari dunia teori kampus menuju realitas
kehidupan di masyarakat sudah bisa di rasakan. Kini, mimpi terasa sudah di
bangunkan walau masih dalam hayalan di balik kelopak mata yang seakan berkedip
menatap.
Perjalanan darat yang memakan waktu menjadi sebuah panggung
tersendiri yang kini sedang dinikmati. Ada yang terlelap, mencoba menebus
kurangnya tidur semalam, ada yang bernyanyi bersama menghibur diri diiringi
gitar seadanya, mencoba untuk mencairkan ketegangan dalam dada. Aruna sendiri
lebih banyak menatap keluar jendela. Hamparan sawah yang hijau berganti dengan
perbukitan kapur yang tandus, jalanan mulai menyempit dan berkelok tajam.
Bayangan wajah-wajah yang akan di temui, cerita yang akan di dengar, dan
tantangan yang akan di hadapi kini semakin dekat membuat detakan jantung
layaknya di tinju menggunakan tangan sang juara. Bus yang tadinya riuh, kini
perlahan senyap saat satu persatu dari mereka tenggelam dalam lamunan dan antisipasi
masing-masing.
Langit mulai berganti warna menjadi lembayung senja ketika bus
utama berhenti di sebuah kecamatan kecil, titik kumpul terakhir. Waktu telah
menunjukkan Ba’da Ashar. Kini saatnya “penerjunan” yang sesungguhnya. Penerjunan
di warnai ketegangan saat kepala kantor camat memberikan sambutan, semua terasa
seakan menantang, ditambah dengan sampaian bahwa semua karakter yang sedang di
bayangkan mulai tampak nyata. Karakter dan budaya kental di masyarakat wilayah
pengabdian, menjadi hal yang sudah harus di hadapi. Satu persatu unit di
panggil, dijemput oleh kendaraan-kendaraan yang lebih kecil, mobil bak terbuka,
sebuah angkutan yang siap mengantarkan raga ini menuju Posko kediaman selama
mengabdi. Pelukan dan ucapan “sampai jumpa dua bulan lagi!” terdengar di antara
kelompok-kelompok yang berpisah. Aruna dan unitnya menaiki sebuah mobil tua
yang akan membawa mereka lebih jauh ke pedalaman desa. Aruna dan unitnya
menaiki mobil tua yang membawa mereka lebih jauh masuk ke dalam pusat mengabdi.
Debu jalanan beterbangan, menjadi saksi bisu berpisahnya rombongan KKN
Nusantara Ke-V.
Panjangnya jalan menuju lokasi tempat mengabdi di warnai hamparan bentangan
sawah yang hijau, sungai kali yang mengalir menambah kesan indah suatu desa
pengabdian. Lelah terasa terbalaskan saat mobil tiba di posko, sambutan hangat
dari warga menambah rasa persaudaraan bahwa adab, sopan, santun benar-benar di
tanamkan. Aruna dan teman-teman turun dengan ransel besar di punggung, tangan
menarik koper. Udara desa yang sejuk dan aroma tanah basah berlangsung
menyergap indra. Beberapa anak kecil menatap dengan tatapan penasaran dari
balik pagar bambu perdesaan. Perjalanan pelepasan telah usai, namun kisah
pengabdian di tanah ini, baru saja akan di mulai.