KKN Kolaborasi 20251 Updated: 08 July 2025 Dilihat: 140 kali

Pelaksanaan Pelepasan, Penerjunan, Peserta KKN Nusantara Ke-V

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, menebarkan sapuan warna jingga pucat di langit kota yang masih menggeliat. Embun pagi dinginnya kota Yogyakarta masih membasahi dedaunan ketika ribuan mahasiswa dengan jaket almamater seragam mulai memadati lapangan rektorat. Ini adalah hari yang di nanti-nantikan sekaligus mendebarkan hari pelepasan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Ke-V. Udara dipenuhi bisik-bisik penuh semangat, tawa gugup, dan dengungan harapan menggetarkan dada. Di tengah hamparan lautan manusia. Aruna dan sembilan temannya dalam satu unit berdiri melingkar, saling melempar senyum untuk menenangkan debar di dada masing-masing. Mereka akan mengabdikan diri di sebuah desa terpencil di ujung pulau, sebuah tempat yang namanya saja baru mereka dengar beberapa minggu lalu dari sebuah peta buta.

Pelaksanaan pelepasan berlangsung dengan penuh khidmat di bawah tatapan matahari yang mulai meninggi menjulang menyinari wajah. Wejangan dari para rektor, pesan dari para dosen pembimbing, hingga tepuk tangan gemuruh yang membahana seakan menjadi bekal terakhir sebelum mereka benar-benar dilepaskan ke medan pengabdian. Ucapan seperti “agen perubahan”, “pemberdayaan masyarakat”, dan “jaga nama baik almamater” berdengung, menjadi mantra yang mengiringi langkah mereka menuju deretan bus besar yang telah menunggu untuk mengantarkan mereka ke medan pengabdian. Ketika busa berdesis menutup, itulah momen sesungguhnya. Hiruk pikuk kota perlahan tertinggal di belakang, digantikan oleh pemandangan yang bergulir monoton di balik jendela. Perjalanan panjang dimulai, sebuah transisi nyata dari dunia teori kampus menuju realitas kehidupan di masyarakat sudah bisa di rasakan. Kini, mimpi terasa sudah di bangunkan walau masih dalam hayalan di balik kelopak mata yang seakan berkedip menatap.

Perjalanan darat yang memakan waktu menjadi sebuah panggung tersendiri yang kini sedang dinikmati. Ada yang terlelap, mencoba menebus kurangnya tidur semalam, ada yang bernyanyi bersama menghibur diri diiringi gitar seadanya, mencoba untuk mencairkan ketegangan dalam dada. Aruna sendiri lebih banyak menatap keluar jendela. Hamparan sawah yang hijau berganti dengan perbukitan kapur yang tandus, jalanan mulai menyempit dan berkelok tajam. Bayangan wajah-wajah yang akan di temui, cerita yang akan di dengar, dan tantangan yang akan di hadapi kini semakin dekat membuat detakan jantung layaknya di tinju menggunakan tangan sang juara. Bus yang tadinya riuh, kini perlahan senyap saat satu persatu dari mereka tenggelam dalam lamunan dan antisipasi masing-masing.

Langit mulai berganti warna menjadi lembayung senja ketika bus utama berhenti di sebuah kecamatan kecil, titik kumpul terakhir. Waktu telah menunjukkan Ba’da Ashar. Kini saatnya “penerjunan” yang sesungguhnya. Penerjunan di warnai ketegangan saat kepala kantor camat memberikan sambutan, semua terasa seakan menantang, ditambah dengan sampaian bahwa semua karakter yang sedang di bayangkan mulai tampak nyata. Karakter dan budaya kental di masyarakat wilayah pengabdian, menjadi hal yang sudah harus di hadapi. Satu persatu unit di panggil, dijemput oleh kendaraan-kendaraan yang lebih kecil, mobil bak terbuka, sebuah angkutan yang siap mengantarkan raga ini menuju Posko kediaman selama mengabdi. Pelukan dan ucapan “sampai jumpa dua bulan lagi!” terdengar di antara kelompok-kelompok yang berpisah. Aruna dan unitnya menaiki sebuah mobil tua yang akan membawa mereka lebih jauh ke pedalaman desa. Aruna dan unitnya menaiki mobil tua yang membawa mereka lebih jauh masuk ke dalam pusat mengabdi. Debu jalanan beterbangan, menjadi saksi bisu berpisahnya rombongan KKN Nusantara Ke-V.

Panjangnya jalan menuju lokasi tempat mengabdi di warnai hamparan bentangan sawah yang hijau, sungai kali yang mengalir menambah kesan indah suatu desa pengabdian. Lelah terasa terbalaskan saat mobil tiba di posko, sambutan hangat dari warga menambah rasa persaudaraan bahwa adab, sopan, santun benar-benar di tanamkan. Aruna dan teman-teman turun dengan ransel besar di punggung, tangan menarik koper. Udara desa yang sejuk dan aroma tanah basah berlangsung menyergap indra. Beberapa anak kecil menatap dengan tatapan penasaran dari balik pagar bambu perdesaan. Perjalanan pelepasan telah usai, namun kisah pengabdian di tanah ini, baru saja akan di mulai.

Diunggah Oleh: Muhammad Almujrin