Pengajian Umum dan Haul dalam Rangka Ziarah di Masjid Jami' Sunan Kalijaga
Semaken 1, Banjararum- Menukil dari detikjogja Masjid Jami’ Sunan Kalijaga mengusung konsep Joglo terletak di Semaken 1 telah ada sejak 1477 Masehi dan peninggalan Sunan Kalijaga melalui perantara muridnya, Adipati Teroeng. Dukuh Semaken 1 terelat bersebelahan dengan lokasi KKN kami di Kedondong 1. Dapat ditempuh tiga menit dengan berjalan kaki sekitar 210 meter. Jadwal kegiatan rutinan Kamis malam di padukuhan biasanya kegiatan yasinan dan tahlil. Tapi, untuk malam ini warga dari beberapa dukuh berkumpul bersama melakukan zikir dalam rangkah ziarah haul. Kegiatan ini masih berlanjut pada esok malam yaitu kegiatan haul, mengumpulkan lebih banyak warga. Sore hari ini pun sudah berdiri tegak tenda di pelataran Masjid Jmai’ Sunan Kalijaga ini.
Kegiatan ini dilaksanakan setelah isya’, diawali dengan zikir dan tahlil. Kemudian, ditutup dengan pembagian kue, teh hangat, dan nasi bungkus. Kegiatan cukup rame, sepertinya hamper semua warga ikut serta dalam kegiatan ini. Masih sangat khas suasana pedesaannya. Saling berkumpul bersama, minim penggunaan gawai atau alat komunikasi ketika duduk bersama. Ratusan jamaah dari berbagai daerah memadati pelataran Masjid Jami’ Sunan Kalijaga, Kalibawang, Kulon Progo pada Jumat malam untuk mengikuti acara puncak dari Haul Sunan Kalijaga. Membaca poster di panggung bisa ditangkap bahwa kegiatan ini adalah kegiatan pengajian umum dan haul. Tertulis dua tokoh dari kegiatan haul ini yaitu Simbah Kyai Muhtarom dan Simbah Kyai Cindai Amoh. Acara ini digelar dalam rangkaian kegiatan ziarah dan haul pendiri serta pejuang kemakmuran masjid Sunan Kalijaga. Penukilan nama Sunan Kalijaga yaitu salah satu Wali Songo yang sangat dihormati dalam sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa. Sejarah mengatakan bahwa Sunan Kalijaga memberikan perintah kepada utusannya untuk mendirikan masjid di sekitar sungai agar memudahkan ketika bersuci.

Masjid Jami’ Sunan Kalijaga yang dikenal sebagai masjid berusia lebih dari 5 abad ini, menjadi saksi bisu perjalanan dakwah dan perkembangan budaya Islam Jawa. Masjid ini menjadi wisata religi, para pengunjung melakukan ziarah kubur dan direncanakan lokasi sektar makam akan dilakukan renovasi atau perbaikan. Dengan arsitektur tradisional khas yang masih kokoh berdiri sejak abad ke-15, masjid ini tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat spiritual dan budaya yang sangat kental. Acara diawali dengan pembacaan surat Yasin secara berjamaah, dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh para ulama setempat. Suasana khusyuk terasa menyelimuti seluruh area masjid, yang malam itu dipenuhi suara lantunan doa dan aroma kemenyan khas tradisi ziarah Jawa.
Acara tahlil dilaksanakan pada hari sebelumnya, dimulai
dengan ziarah di belakang masjid kemudian acara dilanjutkan dengan pengajian
umum yang disejalankan dengan haul. Demi menampung banyak jamaah yang datang, masjid
membangun tenda di pelataran masjid. Tak sedikit peziarah yang juga melakukan
ziarah ke makam yang berada tak jauh dari masjid. Ketika kami sampai masjid,
kami mengira jamaah yang hadir hanya sedikit ternyata jamaah yang hadir sedang
duduk mengelilingi makam. Mereka datang tidak hanya dari dukuh sekitar, tapi
juga dari luar kota. Acara haul ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai spiritual
dan budaya yang diwariskan tetap hidup dan dihargai oleh generasi masa kini. Kegiatan
in merupakan agenda tahunan yang masih terus terlaksana. Pihak pengelola masjid
juga berharap kegiatan ini bisa menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah
Islamiyah sekaligus menjaga kelestarian masjid tua bersejarah ini. Dengan
suasana religius yang berpadu dengan nuansa tradisi, Masjid Jami’ Sunan
Kalijaga terus menjadi magnet spiritual sekaligus warisan sejarah yang tak
ternilai bagi umat Islam di Indonesia.