Pustaka Merdesa: Wisata Edukasi Tersembunyi Penuh Ilmu di Desa Kedondong 1
Pustaka Merdesa, Kedondong 1 - Pagi hari berbalut awan
abu yang mengandung sedikit air, kali ini tidak begitu sejuk dari hari
sebelumnya. Namun, kabut yang menghiasi perbukitan di sana masih tetap
terpampang. Kami berjalan dengan penuh kerelaan menyusuri jalan setapak dengan
perut penuh makanan sarapan tadi pagi. Kerelaan sepertinya kata yang terkesan
memaksa, nyatanya kami bahagia ketika mengetahui kabar bahwa terdapat markasnya mutiara ilmu yang tersembunyi. Tersembunyi namun namanya ‘tlah popular
di media sosial, Pustaka Merdesa namanya. Teman-teman harus banget follow akun Instagramnya @pustakamerdesa.
Ketika kalian menggulir laman unggahan instagram dari Pustaka Merdesa dijamin
deh, pasti kalian terkagum-kagum. Perpustakaan pribadi milik keluarga yang
memiliki koleksi buku cukup banyak, dengan cara unik menggait masyarakat luas
untuk datang berbondong-bondong berkunjung. Tak hanya aktif di kegiatan
literasi namun juga aktif menggaungkan program eko-enzim. Oiya, hasil dari eko-enzim
ternyata bisa dijadikan pupuk, sabun, bahkan obat luka, loh! Ketika berhasil,
cairan eko-enzim ini berbau harum seperti madu tak tecium sedikitpun bau
sampah.
Perjalanan kisah perpustakaan ini berawal dari koleksi buku pribadi milik keluarga, keluarga yang memiliki minat terhadap buku. Tahun 2017 mulai dibuka untuk umum. Mulanya perpustakaan ini buka setiap hari tetapi karena di hari Senin hingga Jumat sang pemilik memiliki kewajiban pada pekerjaan, terasa melelahkan jika buka setiap saat. Akhirnya, sekarang perpustakaan ini dibuka hanya hari Minggu dari pukul 9 hingga sebelum Zuhur. Kegiatan menggaungkan eko-enzim dimulai pada tahun 2020 dengan membuka kelas daring karena saat itu masih wabah Covid-19. Pustaka Merdesa telah dikunjungi oleh banyak kalangan mulai dari volunteer, mahasiswa hingga pemerintah.

Pagi ini kami duduk berbincang bersama Bu Atiek Mariati, pemilik Pustaka Merdesa, berlatarkan sawah, perbukitan dengan beratapkan pepohonan dan bunga-bunga bak surganya dunia. Ketika kami menapakkan kaki tuk pertama kalinya, kami cukup tercengang. Memang sebagus dan seindah itu. Beliau menyambut hangat kedatangan kami dengan menceritakan kisah awal hingga sekarang Pustaka Merdesa berdiri. Beliau seorang aktivis lingkungan yang sangat mencintai bumi dan isinya. Ketika menceritakan tentang perpustakaan dan alam beliau sangat antusias. Pergerakan perpustakaan dan eko-enzim ini murni dari rogohan kocek pribadi. Motivasi yang menjadi penggerak kegiatan beliau ingin berbagi ilmu dan menjaga alam. Beliau berulang mengatakan bahwa hal ini menjadi bentuk usaha dalam rangka berbagi ke pada masyarakat, bukan karena pada materi duniawi. Cukup menampar kami sebagai anak muda yang kalah pergerakannya dibandingkan beliau. Mengawali pagi dengan berkunjung ke perpustakaan ini sepertinya pilihan yang tepat karena sepulangnya dari kujungan kami, akal dan jiwa terasa penuh dengan hal-hal positif. Ah, bahagianya ketika bisa duduk bersama orang-orang yang penuh dengan ilmu. Harapannya semoga bisa ‘kecipratan’ ilmunya, deh.
