KKN Reguler 20251 Updated: 21 July 2025 Dilihat: 122 kali

Warisan di Ujung Pesisir, Kisah Pak Rahim dan Keris pahatannya

Bintan Pesisir, 21 Juli 2025- Di antara deretan rumah warga di Desa Kelong, ada satu rumah yang tampak berbeda. Di pekarangannya berdiri patung badut mirip maskot McDonald's, sedikit nyeleneh, namun menjadi penanda yang khas. Rumah yang terasa sejuk, hembusan angin laut menyapa langsung dari pesisir, menandakan bahwa bangunannya menjorok ke arah lautan. Tampak sederhana dari luar, namun di dalamnya tersimpan kisah budaya yang hilang terlupakan.

Di sanalah tinggal seorang lelaki bernama Bang Rahim . Sambutannya hangat, ditemani aroma kue ketam kelapa dan secangkir teh manis. Sejak awal, Berbagai darinya  itu bukan sekedar basa-basi semata, itulah wajah asli dari masyarakat Melayu yang menjunjung prinsip, bahwa Melayu adalah Islam, dan Islam adalah adab serta etika.


Bang Rahim memang tidak sepenuhnya berdarah Melayu. Ia lahir dari ayah orang Flores dan ibu Melayu, kemudian menikah dengan perempuan Melayu asli. Namun tidak bisa diragukan lagi, maknanya dan jiwa sangat terikat pada budaya Melayu, terutama dalam satu hal yang tak biasa, "Iya saya pembuat keris" katanya dengan memperllihatkan tangan yang kerja keras  membuat keris secara manual, tanpa mesin, dan harus menggunakan perasaan hati ketika membuatnya.

Keris buatannya bukan dari pabrik maupun mesin, melainkan dari niat dan hati. Ia memilih kayu keledang sebagai gagangnya, lalu mengasah bilahnya perlahan dengan gerinda, seperti menulis puisi pada sebilah baja. Coraknya lahir spontan, seperti mimpi yang dipahatkan tangan. Satu keris bisa ia rampungkan dalam seminggu hingga dua minggu, jika inspirasi belum menyapa.


( Salah satu contoh Keris Pahatan Pak Rahim yang dipegang oleh rekan kami )

Awalnya, membuat keris hanya sebagai hobi. Namun siapa sangka, dari hobi itu tumbuh ketekunan dan akhirnya menjadi keterampilan yang mendalam yang menambah penghasilan. Bahan yang ia gunakan berupa kayu buah keledang, bahan lokal yang keras namun lentur, ada juga menggunakan kayu jati dan menghaluskannya dengan gerinda sederhana

Bagi Pak Rahim, membuat keris bukan hanya soal keterampilan, tapi juga jiwa dan makna . “ Biasanya yang membuat keris itu orang yang punya ilmu thariqat dan ma'rifat dalam hidupnya ,” kata salah satu Dosen kami menyyahut. Dengan rendah hati ia mengakui ia tidak memiliki pemikirian seperti itu, namun di tangannya, keris bukan senjata biasa. Ia menjelma menjadi lambang kesenian, filosofi, dan spiritualitas .

Bagi Pak Rahim, keris bukan sekedar senjata. Ia adalah simbol, jiwa, dan tata nilai.


( Setiap lekukan memiliki arti dengan 3 kata Tasbih  ) 

Dalam salah satu bagiannya, terdapat tujuh online berlekuk online, yang dibuat berdasarkan hitungan spiritual, yaitu  Bismillah, Alhamdulillah, dan Astaghfirullah. Tiga kata yang melambangkan pengingat diri. Ia pun percaya bahwa menghitung lekuk dan berhenti di kata Astaghfirullah adalah sebuah bentuk "tabu", tanda agar senjata ini tidak dibuat atau digunakan dengan niat yang salah.

Etika dalam penggunaan keris juga ia tekankan. “ Menarik keris itu tidak boleh sembarangan, ” jelasnya. “Kalau muncung sarungnya mengarah ke orang lain, artinya kamu menantang atau memulai permusuhan.”  Kini keris buatan Pak Rahim digunakan sebagai pelengkap adat pernikahan , dengan harga yang ditetapkan mulai dari 500 ribu rupiah . Namun nilai sebenarnya jauh lebih tinggi dari angka.

Setiap ukiran bukan hanya hasil seni, tetapi juga perenungan dan niat baik . Ia percaya bahwa orang yang membuat keris harus memiliki jiwa filosofi penuh makna, sabar, dan sadar akan nilai hidup.  Di tengah zaman dan gempuran teknologi, Pak Rahim tetap setia memegang palu dan pahatnya. Karena ia percaya, selama masih ada yang memegang keris dengan bangga, selama itu pula budaya tak akan kehilangan jiwanya.


 

Diunggah Oleh: Kelong